Karya: Indra Budiman (Aceh) Legal Share Service Senior Partner
“Hidup di Ujung Senja”
Karya: Indra Budiman (Aceh)
Angin utara membawa kabar,
sawah yang mengering,
dan anak-anak menunggu hujan
di bawah langit tak lagi biru.
Kehidupan ini,
kadang seperti kopi Gayo—
pahit di awal,
tapi bikin rindu di ujung rasa.
Ayah bilang,
“Jangan takut miskin,
takutlah kalau kau lupa pulang.”
Dan itu kutulis di dinding dada.
Kami hidup bukan untuk mewah,
tapi untuk benar.
Untuk bangun pagi,
menyingsing lengan,
dan jujur pada nasi yang kita tanak.
Apa itu sukses?
Bagi kami:
rumah tak bocor saat hujan,
anak bisa sekolah,
dan suara azan masih terdengar jelas
di sela deru dunia.
—————-xxx————————
Di bawah langit Lhokseumawe,
aku belajar bahwa hidup bukan milik kita,
tapi titipan,
yang suatu hari akan ditanya kembali
oleh Dia yang tak pernah lalai mencatat.
Di antara seruan azan Subuh,
dan gemuruh ombak di pantai Ulee Lheue,
aku tahu:
dunia ini hanya singgahan,
bukan rumah.
Ibu mengajarku wudhu dengan air hujan,
sambil berselimut kain sarung ayah yang bolong,
“Bersihkan hati dulu,” katanya,
“baru tanganmu kau cuci.”
Di kampung, kami tak punya banyak,
tapi kami punya cukup:
cukup iman untuk tidak curang,
cukup doa untuk bertahan,
cukup silaturahmi untuk tidak lupa daratan.
Kehidupan di Aceh bukan soal megah,
tapi tentang adab,
tentang hormat pada guru,
tentang tunduk pada Qanun,
tentang percaya bahwa rezeki datang
bukan dari gaji,
tapi dari Allah yang Maha Cukup.
Di meunasah tua,
aku mendengar cerita tentang tsunami
dan orang-orang yang kehilangan segalanya,
kecuali imannya.
Mereka menangis bukan karena kehilangan rumah,
tapi karena sempat lupa shalat
di hari sebelum laut datang memeluk.
Hidup di sini mengajarku diam yang bermakna,
bukan bising yang kosong.
Mengajarku bahwa keikhlasan
lebih penting dari kemenangan.
Di hari Jum’at,
jalan-jalan sepi.
Orang ke masjid,
bukan ke pasar.
Karena kami tahu,
surga bukan dibeli,
tapi dicari dengan amal yang tenang.
Kalau kau tanya tentang masa depan,
aku akan jawab:
“Aku hanya ingin anakku bisa mengaji
sebagus dia membaca buku.”
Karena ilmu dunia tanpa iman,
seperti rumah megah tanpa tiang.
Indra Budiman – Sang Pencercah KATA